1.1 LATAR BELAKANG
Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang
sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan
suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak
berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat
bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat erupakan
the best of time and the worst of time.
Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja :
* Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual
yang mempunyai bentuk yang definitif.Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja
sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.Spranger memberikan tafsiran masa remaja
sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.
* Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan
sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.
* G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang
(badai dan topan).
Para ahli umumnya sepakat bahwa
rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11-13 tahun sampai dengan 18-20 th
(Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini terdapat beberapa indikator
perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh
karena itu, para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian
yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. 14-15 th); dan (2) remaja akhir (14-16 th
s.d.18-20 th).
Masa remaja ditandai dengan adanya
berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikis, yang mungkin saja dapat
menimbulkan problema tertentu bagi si remaja. pabila tidak disertai dengan
upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat, bahkan dapat menjurus
pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang disampaikan di atas, maka
permasalahn yang muncul.
1. Apa
pengertian perkembangan bahasa?
2. Faktor
apa yang mempengaruhi perkembangan bahasa ?
3. Bagaimana
perkembangan bahasa pada remaja?
4. Bagaimana
karakteristik bahasa yang digunakan?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Sesuai dengan latar belakang dan
rumusan masalah yang disampaikan, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan mengenai
tujuan penulisan makalah sebagai berikut.
1. Mengetahui perkembangan bahasa pada remaja.
2. Mengetahui karakteristik bahasa yang digunakan.
ABAB II
PEMBAHASAN
A.PENGERTIAN PERKMBANGAN BAHASA
Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa dipisahkan
dari kegiatan saling berkomunikasi.Untuk berkomunikasi manusia memerlukan suatu
media,terutama bahasa.Oleh karenanya setiap masyarakat manusia mempunyai
bahasa.Dipermukaan bumi ini dapat dijumpai beribu-ribu bahasa manusia.Wujud
bahasa yang ada sangat bervariasi,diantara beberapa bahasa ada yang mendekati
sama dan sampai berbeda sama sekali.Walaupun setiap bahasa itu memiliki
karakteristik bervariasi,setiap bahasa tetap memiliki karakteristik yang
bersifat umum,yaitu:
1. Bahasa
dapat diartikan sebagai suatu sistem simbol dan urutan-urutan kata-kata,yang
digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain,yang melibatkan infinite
generativity,displacement,dan rule system.Robert
E.Owen (1996) menegaskan bahwa Language can be defined as a socially shared
code or conventional system for representing consepts through the use of
arbitary symbols an rule geverned combinations of those system.
2. Bahas
dapat didevinisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem
konvesional untuk menyampaikan konsep melalui penggunaan simbol-simbol yang
dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan.
Dari kedua definisi diatas dapatlah
dirumuskan bahwa “Bahasa” merupakan
suatu kode atau sistem simbol urutan kata-kata yang diterima secara
konvensional untuk menyampaikan konsep-konsep atau ide-ide dan berkomunikasi
melalui penggunaan simbol-simbol yang disepakati dan kombinasi simbol-simbol
yang diatur oleh ketentuan yang ada.
Pada
dasarnya perkembamgan bahasa itu
dipengaruhi oleh faktor biologis dan faktor lingkungan baik secara
sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.
1. Faktor Biologis
Beberapa ahli (Santrock dan yussen : 1992) menegaskan
bahwa anak-anak manusia dilahirkan tidak seperti burung yang datang kedunia
secara biologis sudah siap menyanyikan lagu-lagu sesuai dengan jenisnya.Para
ahli percaya bahwa evolusi biologis
membentuk manusia kedalam makhluk
linguistik.Berkenan dengan evolusi biologis,otak;sistem saraf,dan sistem
vokal berubah selama beratus-ratus ribu tahun.
Linguist Noam Chomsky (Santrock and
Yusen.1992) percaya bahwa manusia itu terikat secara biologis untuk belajar
bahasa pada suatu waktu tertentu dan denngan cara tertentu pula.Selanjutnya
ditegaskan bahwa anak-anak dilahirkan kedunia dilengkapi dengan alat
pemerolehan bahasa(language Acquistion Device = LAD ) yaitu ikatan bilologis
yang memungkinkan anak mendiktesi kategori bahasa tertentu,seperti fonologi,sintaksis,dan
simantik.LAD adalah kemampuan
gramatikal yang dibawa sejak lahir yang mendasari semua bahasa manusia.
2. Faktor Sosiokultural dan Lingkungan
Kita tidak
akan dapat belajar berbahasa dalam swuasana yang sepi dari konteks sosial.Sebagian
besaryang terjadi pada kita,bahwa perkembangan bahasa itu terjadi pada usia
dini.
Para
Antropololog (Santrock an Yussen,1992 ) berspekkulasi
tentang kondisi yang mengarahkan prkmbangan bahasa.Kekuatan sosial yang
mendesak manusia untuk mengembangkan penalaran abstrak dan menciptakan sistem
ekonomis untuk berkomunikasi dengan
orang lain.Miaslanya,manusia mungkin mengembangkan rencana dan strategi
yangkomplek untukmemperoleh makanan dan menemukan tempat berlindung,dan mereka
telah diransang untuk mengembangkkan bhasa guna mencapai tingkat kompetensi
yang lebih tinggi.
B. PENGERTIAN REMAJA
Kata “remaja” berasal dari bahasa
latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko,
1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja,
seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode
pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001)
tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara
implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001),
masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa
dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada
usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam
Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan
Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau
17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja
awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu
telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001)
berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa.
Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja
terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan
dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan
dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan
proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa
remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun
sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa
kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan
masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses
kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif
yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia
& Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan
adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds,
2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan
tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir
secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam
kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek
perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan
fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.
C. ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN PADA MASA REMAJA
1. Perkembangan Fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan
fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan
ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai
dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan
kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari
tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa
yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin
sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).
2. Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock,
2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi
secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun
dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung
diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu
membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide
lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak
saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu
mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah
perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan
bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa
remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang
telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi
memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan
kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
3. Perkembangan kepribadian dan
sosial
Yang dimaksud dengan perkembangan
kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan
menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan
dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan
kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang
dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang
unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds,
2001).
BAB III
PERKEMBANGAN BAHASA REMAJA
A. CIRI BAHASA REMAJA
Ragam bahasa remaja memiliki ciri
khusus, singkat, lincah dan kreatif. Kata-kata yang digunakan cenderung pendek,
sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau
menggantinya dengan kata yang lebih pendek seperti ‘permainan diganti degan
mainan, pekerjaan diganti dengan kerjaan.
Kalimat-kalimat yang digunakan
kebanyakan berstruktur kalimat tunggal. Bentuk-bentuk elip juga banyak
digunakan untuk membuat susunan kalimat menjadi lebih pendek sehingga
seringkali dijumpai kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Dengan menggunakan
struktur yang pendek, pengungkapan makna menjadi lebih cepat yang sering
membuat pendengar yang bukan penutur asli bahasa Indonesia mengalami kesulitan
untuk memahaminya. Kita bisa mendengar bagaimana bahasa remaja ini dibuat
begitu singkat tetapi sangat komunikatif.
B. PERAN BAHASA REMAJA
Dalam berkomunikasi sehari-hari,
terutama dengan sesame sebayanya, remaja seringkali menggunakan bahasa spesifik
yang kita kenal dengan bahasa “gaul”. Disamping bukan merupakan bahasa yang
baku, kata-kata dan istilah dari bahasa gaul ini terkadang hanya dimengerti
oleh para remaja atau mereka yang kerap menggunakannya.
Kita semua secara sadar maupun tidak
sadar pernah mengamati bagaimana kaum remaja menjawab pertanyaan yang diberikan
oleh para orang lain mengenai sebuah acara remaja. Kira-kira beginilah :
1. "Emm,
pokoknya acara asyik banget, band-band yang tampil keren banget, musiknya OK,
ya pokoknya te-o-pe deh!"
2. "Gila,
acaranya keren banget gitu, lho! Aduh pokoknya keren deh... Pokoknya yang nggak
dateng nyesel aja!!"
3. "Wah,
pokoknya gua salut lah sama panitianya. Acaranya keren abis, booo!!"
Lalu bagaimana kalau dimintai
komentar, misalnya tentang seorang artis favoritnya, katakanlah Jennifer Lopez?
1. "Wah
Jennifer Lopez itu top banget, gitu lho! Bodinya seksi, suaranya bagus, cantik
banget, aduh pokoknya keren deh!"
2. "Iya,
gua demen banget sama J-Lo. Dia tuh udah seksi, jago nyanyi, udah gitu jago
nge-dance lagi! Wah, tipe gua banget, tuh!"
3. "Gua suka J-Lo.... karena apa ya? Ya
karena dia keren aja, gitu!!!"
Dengan kondisi seperti ini, wajarlah
kiranya jika para siswa sekolah jauh lebih memilih mengerjakan soal-soal
pilihan ganda daripada esai. Masalahnya jelas : mereka tidak mampu menyampaikan
maksudnya dengan baik ; dengan cukup jernih sehingga bisa dimengerti oleh orang
lain. Kalau cuma sekedar bilang "si A keren", "acara ini
bagus", "desainnya ciamik" dan sebagainya, siapa pun bisa
melakukannya. Tapi tidak ada yang mengerti maksud pembicaraannya sebenarnya.
Keren seperti apa? Mengapa ia dibilang keren? Apa yang membuatnya merasa ia
lebih keren daripada yang lain? Tidak ada secuil pun informasi!
Selain itu ada beberapa contoh
kalimat yang sering kita dengar dalm kehidupan sehari-hari.
“Kamu anak baru, ya?”
‘Iya.”
“Jurusan apa?”
“Komunikasi.”
“Pantesan cantik.”
“Makasih.”
“Eh, mau ini?”
“Apa tuh? Obat, ya?”
“Iya, kalau mau ambil aja.”
Gaya berbahasa berkaitan erat dengan
bahan bacaannya. Kalau yang dibaca remaja selalu masalah-masalah percintaan yang
beraliran gombalisme, maka tidak heran jika pikiran mereka pun tidak terbiasa
dengan hal-hal lain yang sebenarnya sangat penting. Jika pikirannya hanya
disibukkan oleh hal-hal semacam itu, maka jangan heran jika mereka cenderung
menghindar dari pembicaraan-pembicaraan serius (dan tentu juga tulisan-tulisan
yang serius).
Bahasa remaja yang digunakan oleh
kalangan remaja saja. Penggunaan bahasa remaja ini memiliki fungsi yang
strategis bagi kehidupan mereka. Dengan menggunakan bahasa remaja, mereka merasa
sebagai orang yang bisa dan masuk dalam komunitas mereka.
Dalam kesehariaanya, bahasa remaja
dugunakan sebagai penghubung antarmereka. Dengan bahasa remaja yang sifatnya
dinamis, remaja merasa memiliki kebebasan untuk mengepresikan kehidupan mereka.
C. FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN BAHASA REMAJA
Menurut Piaaget (dalam Papalia,
2004), remaja memasuki tahap perkembangan kognitif yang disebut tahap formal
operasional. Piaget menyatakan bahwa tahapan ini merupakan tahap tertinggi
perkembangan kognitif manusia. Pada tahap ini individu mulai mengembangkan
kapasitas abstraksinya.
Sejalan dengan perkembangan
kognitifnya, perkembangan bahasa remaja mengalami peningkatan pesat. Kosakata
remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan
dengan topik-topik yang lebih kompleks. Menurut Owen (dalam Papalia, 2004)
remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai
penggunaan metaphor, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan
pendapat mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang
sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan
istilah bahasa gaul.
Disamping merupakan bagian dari
proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan
ciri dari perkembangan psikososial remaja. Menurut Erikson (1968),
remajamemasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role
confusion. Hal yang dominant terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan
pembentukan identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki
identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Penggunaan
bahasa gaul ini merupakan bagian dari proses perkembangan mereka sebagai
identitas independensi mereka dari dunia orang dewasa dan anak-anak.
Bahasa remaja atau yang dikenal
bahasa gaul, berkembang melalui tayangan berbagai media, baik cetak maupun
elektronik. Media-media tersebut menyebarkan berbagai program remaja yang
kecendrungannya menggunakan bahasa remaja sebagai pengantarnya.
Di dalam tayangan televis, program
yang ditayangkan, seperti sinetron remaja menggunakan bahasa remaja. Melalui
media ini, informasi mengenai bhasa remaja yang ada di kota Jakarta, dapat
menyebar sampai ke pelosok-pelosok desa. Dengan perkembangan teknologi
informasi yang luas, bahasa remaja tidak hanya terbatas pada kalangan
masyarakat khususnya remaja di daerah perkotaan.
Perkembangan sosial pada masa remaja
lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991;
Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak
melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan
bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian,
pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh
lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah
mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya
sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh
tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
Kelompok teman sebaya diakui dapat
mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya
(Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia &
Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa
kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal
persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman
menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang
menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).
D. MAKNA BAHASA REMAJA
a. Gaul, dong!
Dalam konteks sosial pergaulan remaja, gaul
bukanlah sekedar kata. Melainkan sudah menjadi semacam istilah atau ungkapan
yang ruang lingkupnya menyentuh berbagai perilaku atau gaya hidup remaja.
Sayangnya, istilah atau.ungkapan itu cenderung bertentangan dengan nilai atau
norma-norma yang ada. Contohnya, berpacaran dengan ngeseks-nya, minum minuman
keras (ngedrink), menggunakan obat terlarang (ngedrugs), berjudi (ngegambling)
atau yang lainnya dianggap gaul. Begitu pula dengan kebiasaan nongkrong,
ngeceng, atau yang jainnya. Lebih tegasnya, makna gaul lebih berkonotasi
negatif. Kata gaul yang sudah menggejala bahkan membudaya itu, disadari atau
tidaK memiliki makna psikologis yang relatif cukup kuat pengaruhnya dalam
komunitas pergaulan remaja. Akibatnya karena ingin disebut gaul, tidak sedikit
diantara remaja yang ikut-ikutan untuk segera memiliki pacar, ngedrink;
nyimenk, ngedrugs, atau yang lainnya termasuk nongkrong atau ngecengnya. Entah
di pinggiran jaian, di mal-mal, di tempat-tempat hiburan, dan lain sebagainya.
Istilah mereka : Gaul dooong
b. Pede aja, lagi!
Pede (PD) adalah bahasa gaul yang mengungkapkan
perlunya seseorang u.ntuk percaya diri. Namun ironisnya, himbauan, saran, atau
perlunya seorang untuk bersikap “percaya diri1 ini juga cenderung tidak
dibatasi oleh norma-norma tadi, Misalnya seorang gadis berok mini dan berbaju
you can see disarankan untuk pede (baca : percaya diri) dengan pakaiannya itu.
Bahkan bisa jadi si gadis memang merasa lebih pede dengan model pakaian
demikian. Pede aja lagi ! Begitulah bahasa mereka. Masih banyak contoh lain
yang menunjukkan perlunya seseorang untuk bersikap pede namun tetap
normlessness seperti tadi. Sebab ukuran pede yang seharusnya berlandaskan pada
keluhuran nilai-nilai moral dan agama, terkikis oleh hal-hal yang bersifat
fisik dan kebendaan. Contoh lainnya, seseorang merasa pede hanya lantaran kecantikan
atau ketampanan wajahnya semata, pede hanya jika ke sekolah atau ke kampus
membawa motor atau mobil, pede cuma karena mengandalkan status sosial keluarga,
dan masih banyak kasus yang lain, Sedangkan merasa pede setelah memakal
deodoran di ketiak, itu sih, tidak menjadi masalah. Daripada bauket dan
mengganggu orang lain ? Ukuran pede seperti itu, jelas nggak bermutu, selain
juga keliru. Pasalnya, pemahaman pede harus lebih ditempatkan dalam ukuran atau
standarisasi nilai-nilai ahlak. Bukan karena landasan fisik dan kebendaan
semata.
c. Kasihan deh, Lo!
Ungkapan ini juga termasuk bahasa
gaul yang masih cenderung normless. Sebab ungkapan tersebut seringkali
terlontar pada konteks yang tidak tepat. Sebagai contoh, seorang remaja yang
tidak mau mengikuti tren tertentu dianggap : Kasihan deh, Lo!. Begitu pula
dengan remaja yang membatasi diri dari perilaku lainnya yang sesungguhnya
memang perlu/harus dihindari karena tidak sesuai dengan nilai atau norma-norma
agama (Islam). Misalnya karena.tidak pernah turun ke diskotek lengkap dengan
ngedrink atau ngec/njgsnya, ataupun perilaku negatif lain yang sudah menjadi
bagian dari gaya hidup remaja. Bisa juga ungkapan “Kasihan deh, Lu” ini tertuju
pada remaja yang sama sekali tidak mengetahui berbagai informasi yang memang
sesungguhnya juga tidak perlu untuk diketahui. Seperti tidak mengetahui siapa
sajakah personil bintang Meteor Garden yang tergabung dalam f4"itu
? Siapa pula Delon itu? Atau yang lainnya
d.Nyantai aja, Coy!
Kekeliruan lain yang juga menggejala
dalam bahasa gaul remaja adalah ungkapan : Nyantai aja, Coy ! Tentu tidak
masalah dalam kondisi tertentu kita nyantai, lebih tepatnya adalah bersantai
atau istirahat untuk menghilangkan kepenatan. Namun yang menjadi masalah
apabila Nyantai aja, Coy disini konteksnya mirip dengan lagu iklan Silver Queen
: mumpung kiitaa masih muda, santai saja Ingat kan ? Nyantai aja, Coy ! yang
dilontarkan sebagian remaja seringkali bermakna ketidakpedulian terhadap
kemajuan atau prestasi diri. Sebagai contoh, seorang remaja mengatakan, Nyantai
aja, Coy ! kepada temannya, karena temannya itu terlihat gelisah lantaran belum
belajar untuk persiapan ujian besok pagi, Nyantai aja, Coy ! terkadang bisa
pula menunjukkan ketidakpedulian terhadap lingkungan sosial atau orang lain.
Misalnya, seorang remaja putri sedang asyik ngobrol di telepon umum sementara
banyak orang antri menunggu giliran. Ketika salah seorang yang antri
menegurnya, ia malah menjawab Nyantai aja, Coy ! Jika mau dicermati tentu masih
banyak ungkapan : Nyantai aja, Coy ! yang sering dilontarkan para remaja namun
tidak sesuai dengan konteksnya bahkan menafikan keluhuran nilai-nilai akhlak,
Repotnya, apabila mereka dinasihati untuk men}auhi berbagai perilaku yang tidak
baik, termasuk dalam menggunakan ungkapan yang tidak tepat (karena tidak sesuai
dengan konteksnya), maka dengan mudahnya mereka malah berbalik mengatakan,
Nyantai aja, Coy !
BAB IV
PENUTUP
A. SIMPULAN
Banyak factor yang mempengaruhi
perkembangan bahasa. Bahasa remaja berkembang karena luasnya media informasi
yang beredar di masyarakat. Masyarakat kita khususnya remaja, menggunakan
bahasa gaul atau bahasa remaja ini hanya untuk kalangan mereka. Penggunaan ini
bertujuan untuk menyatakan bahwa kehadiran mereka memang ada dalam komunitas
remaja.
Kita sebagai masyarakat bahasa,
tidak mungkin bisa mengenyampingkan kehadiran bahasa remaja di masyarakat. Kita
hanya mampu mengusahakan perkembangan bahasa remaja ini ke arah yang positif.
B. SARAN
“Setinggi-tingginya langit, masih
ada langit yang lebih tinggi lagi”. Pepatah tersebut setidaknya mengingatkan kepada kita
bahwa pengetahuan itu tidak ada batasnya, semakin digali maka semakin banyak
yang tidak kita temukan. Bertolak dari hal tersebut maka penulis menyarankan
kepada para pembaca agar tidak puas hanya dengan materi yang disuguhkan dalam
makalah ini. Gunakanlah buku-buku referensi yang setidaknya bisa membantu dalam
pemahaman anda.
Daftar Pustaka
SOESILO WINRADINI,Psikologi Perkembangan (Usia Remaja)
2000,Usaha Nasional,Surabaya.
Http/perkembanngan bahasa remaja.